di infus di rumah sakit
Terapi Infus di Rumah Sakit: Panduan Komprehensif
Terapi infus intravena (IV) di rumah sakit, umumnya dikenal sebagai “on a infus” atau “diinfus” dalam bahasa Indonesia, adalah prosedur medis mendasar yang melibatkan pemberian cairan, obat-obatan, atau nutrisi langsung ke aliran darah pasien melalui pembuluh darah. Metode ini melewati sistem pencernaan, memungkinkan penyerapan yang cepat dan lengkap, sehingga sangat berharga dalam berbagai skenario klinis. Memahami jenis infus, prosedur yang dilakukan, potensi manfaat dan risiko, serta proses pemantauan sangat penting bagi pasien dan keluarganya.
Jenis Infus yang Diberikan di Rumah Sakit
Kisaran zat yang diberikan melalui infus IV sangat luas dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien. Berikut rincian kategori yang paling umum:
-
Penggantian Cairan: Ini mungkin penggunaan infus IV yang paling sering dilakukan. Rumah sakit menggunakan berbagai solusi untuk mengatasi dehidrasi yang disebabkan oleh muntah, diare, luka bakar, atau asupan cairan yang tidak memadai. Contoh umum meliputi:
- Garam Normal (NaCl 0,9%): Suatu larutan dengan konsentrasi natrium klorida yang serupa dengan cairan tubuh, digunakan untuk hidrasi umum dan pengisian elektrolit.
- Ringer Laktat: Larutan elektrolit seimbang yang mengandung natrium, kalium, kalsium, dan klorida, sering digunakan untuk mengatasi kehilangan cairan yang lebih signifikan dan memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit.
- Solusi Dekstrosa (misalnya D5W): Larutan yang mengandung glukosa, memberikan hidrasi dan sumber energi, khususnya berguna bagi pasien yang tidak mampu makan.
-
Pengiriman Obat: Infus IV memberikan jalur langsung bagi obat untuk mencapai aliran darah, memastikan timbulnya tindakan yang cepat dan kontrol dosis yang tepat. Contohnya meliputi:
- Antibiotik: Digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, sering diberikan secara intravena ketika antibiotik oral tidak efektif atau ketika infeksinya parah. Contoh umum termasuk Vankomisin, Ceftriaxone, dan Meropenem.
- Obat Sakit: Untuk mengatasi nyeri parah, opioid seperti morfin dan fentanil, atau analgesik non-opioid seperti ketorolak, dapat diberikan melalui infus IV.
- Obat Kemoterapi: Digunakan untuk mengobati kanker, obat ampuh ini sering kali diberikan secara intravena untuk menargetkan sel kanker di seluruh tubuh.
- Antiemetik: Obat untuk mencegah atau mengatasi mual dan muntah, penting bagi pasien yang menjalani kemoterapi atau dalam masa pemulihan setelah operasi.
- Antijamur: Obat untuk mengobati infeksi jamur, sering digunakan pada pasien dengan gangguan sistem imun.
-
Produk Darah: Transfusi produk darah sangat penting bagi pasien yang mengalami kehilangan darah dalam jumlah besar, anemia, atau gangguan pembekuan darah. Produk darah yang umum meliputi:
- Sel Darah Merah: Untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen pada pasien anemia.
- Trombosit: Untuk meningkatkan pembekuan darah pada penderita trombositopenia (jumlah trombosit rendah).
- Plasma: Untuk menggantikan faktor pembekuan dan mengobati gangguan perdarahan.
-
Dukungan Nutrisi (Nutrisi Parenteral): Ketika pasien tidak dapat menerima nutrisi yang cukup melalui jalur oral atau enteral, infus IV memberikan nutrisi penting langsung ke aliran darah. Hal ini sering disebut dengan Nutrisi Parenteral Total (TPN) atau Nutrisi Parenteral Parsial (PPN). TPN berisi:
- Asam Amino: Bahan penyusun protein.
- Dekstrosa: Sumber karbohidrat.
- Lipid (Lemak): Sumber energi dan asam lemak esensial.
- Elektrolit, Vitamin, dan Mineral: Untuk menjaga fungsi tubuh dengan baik.
-
Koreksi Elektrolit: Infus IV digunakan untuk memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dengan cepat, seperti:
- Kalium Klorida (KCl): Untuk mengobati hipokalemia (kadar kalium rendah).
- Magnesium Sulfat (MgSO4): Untuk mengobati hipomagnesemia (kadar magnesium rendah).
- Kalsium Glukonat: Untuk mengobati hipokalsemia (kadar kalsium rendah).
Prosedur Infus IV: Panduan Langkah demi Langkah
Prosedur infus IV biasanya dilakukan oleh perawat atau profesional kesehatan terlatih lainnya. Berikut rinciannya:
-
Persiapan: Penyedia layanan kesehatan memverifikasi identitas pasien, alergi, dan riwayat kesehatan. Mereka juga memastikan jenis dan dosis larutan infus, memastikannya sesuai dengan perintah dokter. Larutan infus diperiksa kejelasannya dan tanggal kadaluwarsanya.
-
Pemilihan dan Persiapan Lokasi: Vena yang sesuai dipilih, biasanya di lengan atau tangan. Lokasi yang dipilih dibersihkan dengan larutan antiseptik, seperti klorheksidin atau povidone-iodine, untuk meminimalkan risiko infeksi.
-
Pungsi vena: Tourniquet dipasang di atas lokasi yang dipilih untuk membuat vena lebih menonjol. Sebuah jarum yang dipasang pada kateter dimasukkan ke dalam vena. Setelah darah kembali terlihat, yang menunjukkan penyisipan berhasil, jarum dilepas, meninggalkan kateter fleksibel di tempatnya.
-
Stabilisasi Kateter: Kateter dipasang pada kulit dengan selotip atau pembalut transparan untuk mencegah copotnya.
-
Pengaturan Infus: Tabung IV terhubung ke hub kateter. Larutan infus digantung pada tiang infus, dan kecepatan tetesannya disesuaikan dengan perintah dokter. Hal ini dapat dikontrol secara manual atau dengan pompa infus elektronik.
-
Pemantauan: Selama infus, penyedia layanan kesehatan memantau pasien apakah ada tanda-tanda reaksi merugikan, seperti nyeri, bengkak, kemerahan, gatal, atau kesulitan bernapas. Tempat infus diperiksa secara teratur untuk melihat tanda-tanda infiltrasi (cairan bocor ke jaringan sekitarnya) atau flebitis (radang vena).
Manfaat Terapi Infus IV
Terapi infus IV menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan rute pemberian lainnya:
- Penyerapan Cepat dan Lengkap: Melewati sistem pencernaan memastikan bahwa obat atau cairan dikirim langsung ke aliran darah, sehingga menghasilkan kerja cepat dan penyerapan sempurna.
- Kontrol Dosis yang Tepat: Infus IV memungkinkan kontrol yang tepat terhadap dosis dan kecepatan pemberian, yang sangat penting untuk obat-obatan dengan rentang terapi yang sempit.
- Mengatasi Masalah Pencernaan: Infus IV sangat ideal untuk pasien yang tidak dapat meminum obat atau cairan secara oral karena mual, muntah, atau masalah pencernaan lainnya.
- Efektif untuk Pasien Tidak Sadar: Infus IV dapat digunakan pada pasien yang tidak sadarkan diri atau sakit kritis yang tidak mampu menelan.
- Bioavailabilitas Tinggi: Pemberian IV memberikan bioavailabilitas 100%, artinya seluruh dosis mencapai sirkulasi sistemik.
Potensi Risiko dan Komplikasi
Meskipun infus IV umumnya aman, hal ini terkait dengan risiko dan potensi komplikasi tertentu:
- Infeksi: Pemasangan kateter IV dapat memasukkan bakteri ke dalam aliran darah, menyebabkan infeksi lokal atau sistemik (sepsis). Teknik aseptik yang ketat sangat penting untuk meminimalkan risiko ini.
- Infiltrasi: Jika kateter IV copot dari vena, cairan infus dapat bocor ke jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan pembengkakan, nyeri, dan kerusakan jaringan.
- Radang urat darah: Peradangan pada vena dapat terjadi akibat iritasi dari kateter IV atau larutan infus.
- Emboli Udara: Udara yang memasuki aliran darah selama infus IV dapat menyebabkan emboli udara, suatu kondisi serius dan berpotensi mengancam jiwa.
- Reaksi Alergi: Beberapa pasien mungkin mengalami reaksi alergi terhadap obat atau larutan yang diinfuskan.
- Kelebihan Cairan: Pemberian cairan yang cepat atau berlebihan dapat menyebabkan kelebihan cairan, terutama pada pasien dengan masalah jantung atau ginjal.
- Ketidakseimbangan Elektrolit: Solusi IV yang tidak seimbang dapat memperburuk atau menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit.
Pemantauan Selama Infus IV
Pemantauan berkelanjutan sangat penting selama infus IV untuk mendeteksi dan menangani potensi komplikasi. Ini termasuk:
- Pemantauan Tanda Vital: Pemantauan rutin tekanan darah, detak jantung, laju pernapasan, dan suhu.
- Penilaian Lokasi Infus: Inspeksi rutin pada tempat IV untuk mencari tanda-tanda infiltrasi, flebitis, atau infeksi.
- Pemantauan Keseimbangan Cairan: Pengukuran akurat asupan dan keluaran cairan untuk mencegah kelebihan cairan atau dehidrasi.
- Pemantauan Elektrolit: Tes darah berkala untuk memantau kadar elektrolit dan menyesuaikan infus.
- Observasi Pasien: Observasi pasien secara terus menerus untuk mengetahui tanda-tanda reaksi yang merugikan, seperti nyeri, bengkak, kemerahan, gatal, atau kesulitan bernapas.
Terapi infus IV di Rumah Sakit adalah prosedur medis penting dengan banyak penerapan. Memahami berbagai jenis infus, prosedur yang dilakukan, manfaat dan risiko, serta proses pemantauan sangat penting untuk memastikan keselamatan pasien dan hasil yang optimal. Pelatihan yang tepat dan kepatuhan terhadap protokol yang ditetapkan sangat penting bagi profesional kesehatan yang memberikan infus IV.

