rsudkoja-jakarta.org

Loading

kuning rumah sakit

kuning rumah sakit

Kuning Rumah Sakit: Understanding Neonatal Jaundice and Hospital Management

Pergeseran halus warna kulit bayi baru lahir ke arah kuning, suatu kondisi yang dikenal sebagai penyakit kuning neonatal (neonatal jaundice), adalah kejadian yang sangat umum terjadi. Walaupun sering kali tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya, keberadaan penyakit ini memerlukan evaluasi yang cermat dan, dalam beberapa kasus, intervensi di rumah sakit. Artikel ini menggali seluk-beluk penyakit kuning neonatal, dengan fokus pada penyebab yang mendasari, prosedur diagnostik, potensi komplikasi, dan pendekatan multifaset dalam penanganannya di lingkungan rumah sakit.

Penyebab Penyakit Kuning Neonatal: Perspektif Beragam

Penyakit kuning neonatal, atau hiperbilirubinemia, timbul dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah. Bilirubin, pigmen kuning, adalah produk sampingan dari pemecahan normal sel darah merah. Pada bayi baru lahir, beberapa faktor berkontribusi terhadap akumulasinya:

  • Penyakit kuning fisiologis: Ini adalah tipe yang paling sering terjadi. Hati bayi baru lahir sering kali belum sepenuhnya matang, menyebabkan pemrosesan dan ekskresi bilirubin menjadi lebih lambat. Umur sel darah merah juga lebih pendek pada bayi baru lahir, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan produksi bilirubin. Biasanya muncul 24-72 jam setelah kelahiran, biasanya mencapai puncaknya dalam 3-5 hari dan hilang dalam satu atau dua minggu tanpa intervensi.

  • Penyakit Kuning Menyusui: Dua bentuk penyakit kuning yang berhubungan dengan menyusui:

    • Penyakit Kuning Akibat Menyusui (Awal Dini): Terjadi pada minggu pertama kehidupan akibat asupan ASI yang tidak mencukupi. Hal ini menyebabkan dehidrasi, penurunan pergerakan usus, dan eliminasi bilirubin lebih lambat.
    • Penyakit Kuning ASI (Awalnya Terlambat): Muncul setelah minggu pertama, kemungkinan karena zat dalam ASI yang mengganggu metabolisme bilirubin. Penyakit ini dapat bertahan selama beberapa minggu atau bahkan berbulan-bulan, meskipun kadar bilirubin biasanya tetap dalam batas aman.
  • Penyakit Hemolitik: Hal ini terjadi bila terdapat ketidaksesuaian antara golongan darah ibu dan bayi, seperti ketidakcocokan Rh atau ketidakcocokan ABO. Antibodi ibu menyerang sel darah merah bayi, menyebabkan kerusakan yang cepat dan lonjakan bilirubin.

  • Cephalohematoma dan Memar: Kondisi ini mengakibatkan pengumpulan darah secara lokal. Saat darah rusak, ia melepaskan bilirubin, yang menyebabkan penyakit kuning.

  • Infeksi: Infeksi, baik bakteri maupun virus, dapat mengganggu fungsi hati dan meningkatkan produksi bilirubin. Sepsis merupakan masalah serius pada bayi baru lahir.

  • Gangguan Metabolik: Gangguan metabolisme yang langka, seperti sindrom Gilbert, sindrom Crigler-Najjar, dan defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), dapat memengaruhi metabolisme dan ekskresi bilirubin.

  • Atresia Bilier: Kondisi langka ini melibatkan penyumbatan saluran empedu, sehingga mencegah bilirubin dikeluarkan dari hati. Hal ini memerlukan intervensi bedah.

Diagnosis dan Penilaian di Rumah Sakit

Saat menyadari penyakit kuning, penilaian menyeluruh sangat penting. Hal ini dimulai dengan riwayat kesehatan secara rinci, termasuk golongan darah ibu, riwayat kehamilan, rincian persalinan, dan pola makan. Pemeriksaan fisik berfokus pada:

  • Menilai Tingkat Penyakit Kuning: Penyakit kuning biasanya berkembang dari ujung kepala sampai ujung kaki. Estimasi visual, meskipun subjektif, memberikan penilaian awal.

  • Mengidentifikasi Penyebab yang Mendasari: Memeriksa tanda-tanda penyakit hemolitik (pucat, pembesaran limpa), infeksi (demam, lesu), dan memar.

  • Mengevaluasi Status Hidrasi: Menilai tanda-tanda dehidrasi, seperti ubun-ubun cekung dan penurunan keluaran urin.

Tes diagnostik sangat penting untuk mengukur kadar bilirubin dan mengidentifikasi penyebab yang mendasari:

  • Jumlah Bilirubin Serum (TSB): Ini adalah standar emas untuk mengukur konsentrasi bilirubin dalam darah.

  • Bilirubin Transkutan (TcB): Metode non-invasif menggunakan alat yang dipasang pada kulit untuk memperkirakan kadar bilirubin. TcB sering digunakan untuk skrining dan dapat mengurangi kebutuhan akan pengambilan darah yang sering. Namun, pembacaan TcB mungkin kurang akurat pada situasi tertentu, seperti pada bayi prematur atau bayi dengan pigmentasi kulit lebih gelap.

  • Bilirubin Langsung (Terkonjugasi) dan Tidak Langsung (Tidak Terkonjugasi): Mengukur kedua fraksi membantu menentukan jenis penyakit kuning dan memandu penyelidikan lebih lanjut. Peningkatan bilirubin langsung menunjukkan adanya masalah hati atau saluran empedu.

  • Golongan Darah dan Faktor Rh: Untuk mengidentifikasi potensi ketidakcocokan golongan darah.

  • Hitung Darah Lengkap (CBC): Untuk menilai anemia dan tanda-tanda infeksi.

  • Jumlah Retikulosit: Untuk mengevaluasi produksi sel darah merah, yang mungkin meningkat pada penyakit hemolitik.

  • Pemutaran G6PD: Untuk menyingkirkan defisiensi G6PD, terutama pada populasi dengan prevalensi tinggi.

  • Tes Fungsi Hati (LFT): Untuk menilai fungsi hati dan mengidentifikasi potensi penyakit hati.

Strategi Manajemen Rumah Sakit: Pendekatan Komprehensif

Tujuan utama manajemen rumah sakit adalah mencegah kadar bilirubin mencapai tingkat tinggi yang berbahaya yang dapat menyebabkan kerusakan otak (kernikterus). Keputusan pengobatan didasarkan pada usia bayi, usia kehamilan, kadar bilirubin, dan adanya faktor risiko.

  • Fototerapi: Ini adalah pengobatan yang paling umum untuk penyakit kuning neonatal. Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus berwarna biru atau putih yang mengubah bilirubin menjadi bentuk yang larut dalam air yang dapat dikeluarkan melalui urin dan tinja. Pemantauan suhu, hidrasi, dan perlindungan mata yang cermat sangat penting.

  • Transfusi Tukar: Ini adalah prosedur yang lebih invasif yang digunakan untuk hiperbilirubinemia parah ketika fototerapi tidak efektif. Ini melibatkan penggantian darah bayi dengan darah donor untuk menurunkan kadar bilirubin dengan cepat.

  • Imunoglobulin Intra Vena (IVIG): Digunakan dalam kasus ketidakcocokan Rh atau ABO untuk mengurangi pemecahan sel darah merah.

  • Hidrasi: Memastikan hidrasi yang cukup sangat penting, terutama pada bayi yang mendapat ASI dan menderita penyakit kuning akibat menyusui. Suplementasi dengan susu formula atau cairan intravena mungkin diperlukan.

  • Pengobatan Penyebab yang Mendasari: Mengatasi penyebab yang mendasarinya, seperti mengobati infeksi atau menangani gangguan metabolisme, sangatlah penting.

  • Pemantauan: Pemantauan kadar bilirubin secara berkala sangat penting untuk menilai efektivitas pengobatan dan menyesuaikan rencana penatalaksanaan sesuai kebutuhan.

  • Pendidikan Orang Tua: Mendidik orang tua tentang penyakit kuning, penyebabnya, pilihan pengobatan, dan potensi komplikasinya sangat penting untuk memastikan kepatuhan terhadap rencana pengobatan dan mendorong pengenalan dini terhadap masalah apa pun.

Potensi Komplikasi dan Hasil Jangka Panjang

Meskipun sebagian besar kasus penyakit kuning neonatal dapat sembuh tanpa komplikasi jangka panjang, hiperbilirubinemia berat dapat menyebabkan kernikterus, suatu kondisi yang jarang terjadi namun sangat merugikan. Kernikterus menyebabkan kerusakan otak permanen, mengakibatkan lumpuh otak, gangguan pendengaran, dan cacat intelektual. Diagnosis dini dan pengobatan yang cepat sangat penting untuk mencegah kernikterus.

Komplikasi potensial lainnya meliputi:

  • Dehidrasi: Karena asupan cairan yang tidak memadai atau peningkatan kehilangan cairan selama fototerapi.
  • Ruam Kulit: Sebagai efek samping fototerapi.
  • Sindrom Bayi Perunggu: Komplikasi fototerapi yang jarang terjadi, ditandai dengan perubahan warna kulit menjadi coklat keabu-abuan.

Perencanaan Pemulangan dan Tindak Lanjut

Sebelum pulang, orang tua harus menerima instruksi yang jelas tentang cara memantau tanda-tanda penyakit kuning pada bayi, pedoman pemberian makan, dan kapan harus mencari pertolongan medis. Janji temu lanjutan dengan dokter anak sangat penting untuk memastikan kadar bilirubin menurun dan bayi berkembang dengan baik.

Kesimpulan

Penyakit kuning neonatal adalah kondisi umum yang memerlukan penilaian dan penanganan yang cermat di rumah sakit. Memahami penyebab yang mendasari, menerapkan prosedur diagnostik yang tepat, dan memberikan pengobatan yang tepat waktu dan efektif sangat penting untuk mencegah komplikasi dan memastikan hasil yang optimal bagi bayi baru lahir. Pendidikan orang tua memainkan peran penting dalam mempromosikan pengenalan dini penyakit kuning dan kepatuhan terhadap rencana pengobatan.